berita/block-1
MUSLIMAT NU
MUSLIMAT NU/block-5
GP ANSOR NU
GP ANSOR NU/block-6
FATAYAT NU
FATAYAT NU/block-6
IPNU
IPNU/block-6
IPPNU
IPPNU/block-6
PMII
PMII/block-6
PS PAGAR NUSA
PS PAGAR NUSA/block-6
ISNU
ISNU/block-6
PERGUNU
PERGUNU/block-6
SARBUMUSI
SARBUMUSI/block-8
JQH
JQH/block-8
LDNU
LDNU/block-5
LP MA’ARIF NU
LP MA’ARIF NU/block-2
RMINU
RMINU/block-2
LPNU
LPNU/block-2
LPPNU
LPPNU/block-2
LKKNU
LKKNU/block-2
LAKPESDAM NU
LAKPESDAM NU/block-2
LPBHNU
LPBHNU/block-5
LESBUMI NU
LESBUMI NU/block-2
LAZISNU
LAZISNU/block-2
LWPNU
LWPNU/block-2
LBMNU
LBMNU/block-2
LTMNU
LTMNU/block-2
LKNU
LKNU/block-2
LFNU
LFNU/block-2
LTNNU
LTNNU/block-2
LPBI NU
LPBI NU/block-2
LKQNU
LKQNU/block-2
LPKPNU
LPKPNU/block-5
KATEGORI
FATAYAT NU
(6)
GP ANSOR NU
(23)
IPNU
(6)
IPPNU
(6)
ISNU
(5)
JPPNU
(1)
JQH
(3)
JRA
(1)
KBRA
(1)
LAKPESDAM NU
(16)
LAZISNU
(19)
LBMNU
(10)
LDNU
(39)
LESBUMI NU
(4)
LFNU
(12)
LKKNU
(1)
LKNU
(2)
LKQNU
(2)
LP MA’ARIF NU
(3)
LPBHNU
(2)
LPBI NU
(4)
LPKPNU
(2)
LPNU
(3)
LPPNU
(5)
LTMNU
(4)
LTNNU
(31)
LWPNU
(4)
MUSLIMAT NU
(3)
PERGUNU
(5)
PMII
(3)
PS PAGAR NUSA
(4)
RMINU
(7)
SARBUMUSI
(3)
berita
(223)
Daftar Link
Postingan Populer
-
1. Judul Resensi Buku : “ Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan” 2. Data Buku Judul Buk...
-
PCNU Kudus, Jateng Kudus, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) memiliki empat kekuatan yakni berupa akidah Ahlussunnah wal Jamaah (...
-
Ketua Umum PBNU Prof dr KH Said Aqil Siradj M,A. hadir pada acara Halaqah Kebangsaan dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ...
-
Lombok Barat, NU Online KH Ahmad Muwafiq menyampaikan bahwa Islam disebarkan para ulama ke Nusantara dengan memperhatikan bu...
-
Duet Kiai Ulil dan H Asyrofi pimpin NU Kudus Kudus, NU Online Pasangan KH Ulil Albab Arwani dan H Asyrofi Masyito oleh pese...
-
Kudus, NU Online Tanggal 3 Maret kemarin, H Asyrofi Masyito terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupa...
-
Khutbah I اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ، اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ الَّذِÙ‰ْ جَعَÙ„َ الْاِسْÙ„َامَ Ø·َرِÙŠْÙ‚ًا سَÙˆِÙŠًّا، ÙˆَÙˆَعَدَ Ù„ِÙ„ْÙ…ُتَÙ…َسِّÙƒِÙŠْÙ†َ بِÙ‡ِ ÙˆَÙŠَ...
-
Hasil sidang pleno IV dan sidang pleno V Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung lalu, terpilihlah KH. Miftachul Ahyar sebagai Rais 'A...
-
HIJRAH MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Ahmad Fatah [1] Sekarang adalah pekan-pekan terakhir dalam tahun 1440 Hijriyah. Artinya seben...
-
PEREMPUAN PILAR PERADABAN Oleh: Ahmad Fatah Perempuan adalah pilar peradaban. Banyak kajian dan teladan mengenai kisah dan ki...
Popular Posts
-
1. Judul Resensi Buku : “ Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan” 2. Data Buku Judul Buk...
-
PCNU Kudus, Jateng Kudus, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) memiliki empat kekuatan yakni berupa akidah Ahlussunnah wal Jamaah (...
-
Ketua Umum PBNU Prof dr KH Said Aqil Siradj M,A. hadir pada acara Halaqah Kebangsaan dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ...
-
Lombok Barat, NU Online KH Ahmad Muwafiq menyampaikan bahwa Islam disebarkan para ulama ke Nusantara dengan memperhatikan bu...
-
Duet Kiai Ulil dan H Asyrofi pimpin NU Kudus Kudus, NU Online Pasangan KH Ulil Albab Arwani dan H Asyrofi Masyito oleh pese...
-
Kudus, NU Online Tanggal 3 Maret kemarin, H Asyrofi Masyito terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupa...
-
Khutbah I اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ، اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ الَّذِÙ‰ْ جَعَÙ„َ الْاِسْÙ„َامَ Ø·َرِÙŠْÙ‚ًا سَÙˆِÙŠًّا، ÙˆَÙˆَعَدَ Ù„ِÙ„ْÙ…ُتَÙ…َسِّÙƒِÙŠْÙ†َ بِÙ‡ِ ÙˆَÙŠَ...
-
Hasil sidang pleno IV dan sidang pleno V Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama di Lampung lalu, terpilihlah KH. Miftachul Ahyar sebagai Rais 'A...
-
HIJRAH MOMENTUM PERUBAHAN Oleh: Ahmad Fatah [1] Sekarang adalah pekan-pekan terakhir dalam tahun 1440 Hijriyah. Artinya seben...
-
PEREMPUAN PILAR PERADABAN Oleh: Ahmad Fatah Perempuan adalah pilar peradaban. Banyak kajian dan teladan mengenai kisah dan ki...
Featured Posts
randomposts4
Latest Articles
LTN NU
-
Juni 29, 2026
Edit this post
DORONG KONTEN DAKWAH FOR YOUR PAGE DAN PENYELESAIAN PERMASALAHANYA DALAM FORUM SESI 3 MUKTAMAR ILMU PENGETAHUAN IV LAKPESDAM PWNU JAWA TENGAH
KUDUS (LTNNU ) – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus sukses menyelenggarakan Muktamar Ilmu Pengetahuan IV pada Sabtu (27/06/2026).
Sesi 3 Muktamar Ilmu Pengetahuan IV menghadirkan kegiatan diskusi panel dengan tema besar Nahdlatul Ulama & Masyarakat Sipil Digital : Transformasi Media, kontestasi Wacana, dan Dakwah Digital yang dihadiri oleh akademisi Savic Ali, Rifqi Fairuz, dan Abraham Zakky Zulhamzmi. Forum membahas tentang bagaimana anak anak muda Nahdlotul Ulama mampu membranding tokoh ulama NU, bahkan bagaimana pemuda NU mampu dakwah singkat di media sosial dan menjadi For Your Page (FYP). Sebagai contoh, konten Gus Baha' yang fenomenal hanya dengan rekaman suara dikombinasikan denga pemandangan alam bahkan dakwah dengan menciptakan publik figur ustadzah dari Artificial Intelligence.
Forum diskusi panel membahas banyaknya generasi Z lebih suka melihat konten konten singkat. bahkah mencari informasi dari google atau media sosial untuk menjawab segala permasalahan hidup sampai dengan hukum agama. Sedangkan NU belum ada platform resmi sebagai pencarian informasi hukum agama bagi generasi Z dikalangan NU.
Rekomendasi web ataupun aplikasi berbasis informasi hukum agama perlu dihadirkan sebagai solusi informasi hukum yang kredibel dari NU. Selayaknya aplikasi Halo dok, untuk menjawab gejala gejala ringan sakit dalam tubuh, maka NU perlu membuat aplikasi halo Gus, untuk menjawab permasalahan hukum agama kategori ringan dan sudah ada rujukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan dari hukum hukum yang dirumuskan dalam kitab maupun Batshul Masail.
LTN NU
-
Juni 29, 2026
Edit this post
Tema: "Transformasi Tata Kelola Jam'iyah Menyongsong Milenium Kedua NU dengan Teguh Menjunjung Tradisi dan Khittah 1926"
![]() |
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Memasuki abad kedua atau
milenium kedua dalam hitungan kalender hijriah/masehi, Nahdlatul Ulama
dihadapkan pada tantangan peradaban dunia yang kian kompleks, dinamis, dan
berbasis digital. Namun bagi NU, modernitas bukanlah sebuah pemutusan hubungan
dengan masa lalu, melainkan sebuah manifestasi luhur dari kaidah fikhiah yang
fundamental:
“Al-muhafadhatu
‘ala-l-qadimi-s-shalih wa-l-akhdu bi-l-jadidi-l-aslah” (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang
lebih baik)
Oleh karena itu, PCNU Kudus setelah
mendapatkan berbagai masukan dan usulan dari berbagai pihak warga NU Kudus, melalui PWNU Jawa Tengah menegaskan bahwa
seluruh upaya transformasi manajemen dan tata kelola organisasi modern yang
diusulkan ini perlu berdiri tegak di atas fondasi kokoh Tradisi
Pesantren, Sanad Keilmuan Ulama, dan prinsip-prinsip dasar Khittah NU 1926.
Modernisasi birokrasi dan
digitalisasi di tubuh NU bukan untuk mensekulerkan organisasi, melainkan
sebagai wasilah (sarana/alat) agar cita-cita luhur para Muassis
(pendiri) NU dapat membumi, berdaya saing global, dan mampu menjawab tantangan
zaman secara presisi di milenium kedua.
Atas dasar spirit khidmah
tersebut, berikut adalah 7 (tujuh) poin rekomendasi strategis tata kelola
organisasi sosial keagamaan modern yang kami usulkan:
TUJUH
POIN REKOMENDASI STRATEGIS
1. Standardisasi dan Regulasi Mekanisme BUMNU (Badan Usaha
Milik NU)
·
Rekomendasi: Mengusulkan kepada PBNU untuk menerbitkan regulasi baku berupa
Peraturan Perkumpulan (Perkum) dan Standard Operating Procedure (SOP)
mengenai pendirian serta pengelolaan BUMNU di semua tingkatan termasuk
positioning Lembaga Bimbingan Haji dan Umroh NU (LBIHU NU) yang jelas agar berjalan sehat dan
bermutu layani umat. Pengelolaan BUMNU wajib dipisahkan secara total dari manajemen
harian reguler kepengurusan NU dengan membentuk Badan Pengawas dan Direksi
Profesional yang di-audit secara berkala.
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: Menghadapi milenium kedua, NU wajib
mencapai kemandirian finansial (financial sustainability). Sesuai
prinsip Corporate Governance, pemisahan antara regulator (Pengurus NU)
dan eksekutif (Pengelola BUMNU) bertujuan menghindari conflict of interest
(konflik kepentingan). Kemandirian ekonomi ini merupakan amanah historis dari
gerakan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) 1918 yang menjadi pilar
lahirnya NU. BUMNU harus dikelola dengan prinsip kewirausahaan sosial (social
entrepreneurship) yang transparan demi kemaslahatan umat.
2. Ketegasan Regulasi Rangkap Jabatan (Internal &
Eksternal)
·
Rekomendasi: Memperketat dan memperjelas batasan rangkap jabatan dengan
klasifikasi yang objektif, adil, dan strategis:
1.
Internal NU (Lintas Jenjang,
Lembaga, dan Banom): Memberikan toleransi dan ruang
bagi kader potensial untuk mengabdi lintas struktural (misalnya pengurus PCNU
juga aktif di Lembaga atau menjadi dewan penasihat/pembina di Banom), dengan
syarat mutlak tidak merangkap posisi Ketua/Pimpinan Tertinggi harian di lebih
dari satu perangkat organisasi tersebut.
2.
Eksternal (Partai Politik
& Jabatan Politik): Memberlakukan asas zero
tolerance (wajib nonaktif atau mundur secara otomatis) bagi seluruh
pengurus harian NU di semua tingkatan yang menjadi pengurus partai politik atau
maju dalam kontestasi politik praktis (Pilpres, Pilkada, Pileg).
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: * Secara Internal:
Berdasarkan prinsip Talent Pool Management, kebijakan ini merupakan
optimasi sumber daya manusia (human capital optimization). Spektrum
dakwah NU sangat luas, sehingga membatasi kader potensial secara kaku di satu
wadah justru akan memperlambat akselerasi program. Selama posisi Ketua tidak
dirangkap demi menjaga Unity of Command (kesatuan komando), keterlibatan
kader di beberapa lini akan memperkuat kolaborasi lintas fungsi (cross-functional
collaboration) dan melestarikan tradisi pesantren yang mengutamakan
keberkahan khidmah kolektif.
1.
Secara Eksternal: Poin ini adalah pemurnian amanah Khittah NU 1926 hasil Keputusan
Muktamar ke-27 di Situbondo tahun 1984. Ketegasan larangan rangkap jabatan di
parpol adalah harga mati demi menjaga prinsip Brand Neutrality dan Independency
organisasi. NU di milenium kedua harus tetap berwibawa sebagai pengayom seluruh
umat (rahmatan lil 'alamin), bebas dari intervensi politik elektoral
sesaat.
3. Implementasi Sistem Informasi Manajemen Aset NU (SIMAS-NU)
·
Rekomendasi: Mengusulkan kepada Konbes PBNU untuk membangun platform digital
terintegrasi berbasis cloud (SIMAS-NU) yang berkekuatan hukum
untuk mendata, memetakan, dan mengamankan seluruh aset bergerak maupun tidak
bergerak (terutama sertifikasi tanah wakaf) dari tingkat Pusat hingga Ranting.
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: Ini adalah wujud nyata dari prinsip Transparency
dan Asset Security. Di era Big Data, pengelolaan aset secara
manual sangat rentan terhadap sengketa hukum dan hilangnya histori aset.
Menjaga aset organisasi adalah bentuk tanggung jawab keagamaan (hifdzul maal)
dan penghormatan terhadap amanah (jariyah) para waqif.
Digitalisasi aset akan meningkatkan indeks kepercayaan (trust) jemaah
dan mempermudah optimalisasi aset secara presisi.
4. Rekonstruksi Khittah NU sebagai Kekuatan Civil Society
(Kontrol Pemerintah)
·
Rekomendasi: Menegaskan kembali posisi NU sebagai pilar Civil Society
(Masyarakat Sipil) yang mandiri. NU harus mengambil peran aktif, kritis, dan konstruktif
sebagai mitra strategis sekaligus kekuatan penyeimbang (checks and balances)
terhadap setiap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hajat hidup orang
banyak.
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: Dalam ekosistem tata negara modern,
lembaga keagamaan terbesar seperti NU memegang mandat peradaban sebagai social
watchdog (pengawas sosial). Karakteristik Civil Society NU berakar
dari sikap kemasyarakatan Ahlussunnah wal Jama'ah: Tawassuth (moderat), Tawazun
(seimbang), I'tidal (tegak lurus), dan Tasamuh (toleran). Sikap
kritis NU kepada pemerintah dilakukan melalui tradisi tashih (koreksi)
yang santun namun tegas, menempatkan kemaslahatan rakyat sebagai hukum
tertinggi (tasharruful imam 'alar ra'iyyah manuthun bil maslahah).
Kedekatan yang terlalu intim dengan kekuasaan berisiko mengikis legitimasi
moral (moral force) Jam'iyah di mata akar rumput (grassroot).
5. Akurasi Struktur: Legalitas Lembaga Khas Daerah (Agile
Clause)
·
Rekomendasi: Memasukkan klausul fleksibilitas dalam ART/Perkum yang memberikan
hak otonom bagi PCNU untuk mendirikan "Lembaga Ad-Hoc/Khas Daerah"
yang disesuaikan dengan kebutuhan sosiologis, ekonomi, dan kearifan lokal
setempat yang tidak terdapat di struktur pusat.
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: Manajemen abad ke-21 mengagungkan
prinsip Agile Organization (Organisasi yang Lincah). Karakteristik tiap
daerah berbeda (seperti Kudus dengan dinamika industri kretek dan
santri-pengusaha). NU sejak lahir sangat menghargai kearifan lokal (urf),
sejalan dengan kaidah fikhiah “al-‘adah muhakkamah” (adat/kearifan lokal
bisa menjadi instrumen kebijakan). Fleksibilitas ini membuat NU selalu relevan
dan responsif terhadap dinamika lokal (local responsiveness) tanpa
menabrak aturan di atasnya.
6. Unifikasi dan Keselarasan Linier Struktur Organisasi
·
Rekomendasi: Melakukan simplifikasi dan standardisasi nomenklatur divisi,
lembaga, dan lajnah. Struktur lembaga yang ada di PBNU wajib linier, simetris,
dan memiliki garis koordinasi yang searah hingga tingkat PWNU, PCNU, MWC, dan
PRNU tanpa ada perbedaan nama atau fungsi yang membingungkan.
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: Menggunakan prinsip Organizational
Alignment (Keselarasan Organisasi) dan Unity of Command (Kesatuan
Komando). Struktur yang asimetris di tiap tingkatan menciptakan sekat birokrasi
dan memperlambat penyampaian (cascade) program kerja. Unifikasi ini
mencerminkan tradisi Sami'na wa Atha'na yang terstruktur. Kepatuhan
struktural yang linier ini ibarat keteraturan shalat berjamaah—di mana barisan
(shaff) harus lurus dan rapat agar gerakan organisasi menjadi efektif
dan seirama dari pusat hingga ranting.
7. Reformasi Sistem Pemilihan Ketua Umum (Tanfidziyah)
Berbasis Merit System
·
Rekomendasi: Mendukung penuh transformasi mekanisme pemilihan Ketua Umum
Tanfidziyah dari model pemilihan langsung terbuka one man one vote yang
liberal, beralih ke sistem musyawarah mufakat yang diperluas, atau melalui
penguatan sistem keterwakilan/delegasi berbobot (menyelaraskan dengan formula
ideal yang digodok oleh PWNU Jawa Tengah).
·
Argumentasi Manajemen Modern
& Khittah: Sistem pemilihan ala politik praktis
terbukti memicu faksionalisme yang merusak kohesi organisasi pasca-Muktamar dan
rentan disusupi money politics. Organisasi modern berbasis nilai (value-based
organization) harus menerapkan Merit System. Rekomendasi ini
mengadopsi prinsip musyawarah mufakat (Syura) yang diajarkan Islam dan
melestarikan tradisi penghormatan kepada Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Model ini menjauhkan Jam'iyah dari watak materialistis, menjaga kesucian organisasi,
dan memastikan bahwa kepemimpinan NU di milenium kedua lahir dari rahim jernih
spiritualitas serta rekam jejak khidmah yang nyata.
PENUTUP
Demikian Memorandum Usulan
Rekomendasi ini disusun oleh PCNU Kudus untuk disalurkan secara struktural melalui
PWNU Jawa Tengah. Usulan ini merupakan manifestasi rasa cinta dan tanggung
jawab kami demi menjaga marwah Jam'iyah Nahdlatul Ulama agar tetap kokoh
memegang tradisi luhur, murni dalam Khittah 1926, namun sekaligus berwibawa,
profesional, dan digdaya dalam memimpin peradaban di Milenium Kedua.
Wallahul muwaffiq ila
aqwamith thariq,
LTN NU
-
Juni 27, 2026
Edit this post
Pesantren dan Masjid
Didorong Menjadi Social Lab Berbasis Sains dan Teknologi untuk Khidmah Khaira
Ummah
Kudus – Pesantren dan masjid didorong untuk
bertransformasi menjadi laboratorium sosial (social laboratory) berbasis
sains, teknologi, dan inovasi tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai pusat tafaqquh
fi al-dīn. Pendalaman ilmu-ilmu keislaman tetap menjadi fondasi utama,
sementara perkembangan sains, teknologi digital, dan kecerdasan buatan
diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat (khidmah
khaira ummah).
Gagasan tersebut mengemuka dalam Sesi Pendukung
(Paralel 4) Muktamar Ilmu Pengetahuan IV yang diselenggarakan di UIN Sunan
Kudus (27/06/2026) oleh LAKPESDAM PWNU Jawa Tengah kerja sama dengan UIN Sunan
Kudus dan PCNU Kudus dengan tema "Pesantren sebagai Pilar Masyarakat Sipil
Keagamaan: Dari Pendidikan, Kemandirian hingga Transformasi Sosial."
Forum ini menghadirkan Dr. H. Machrus El Mawa,
Kepala Subdirektorat Pendidikan Ma'had Aly Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama RI; K.H. Fadhlullah Turmudzi, Ketua RMI NU Jawa Tengah; Dr.
H. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag., penggerak literasi UIN Sunan Kudus dan Founder
Pesantren Mahasiswa Berdaya Prisma Quranuna Kudus; Dr. Agus Suharjono Ekomadyo,
S.T., M.T., dosen Institut Teknologi Bandung (ITB); Ahmad Nashir Budiman, S.H.,
pengurus Masjid Salman ITB; serta Dr. Techn. Ir. Saiful Akbar, S.T., M.T.,
dosen ITB sekaligus aktivis Masjid Salman ITB.
Mengawali diskusi, Dr. Machrus El Mawa menegaskan
bahwa pesantren, santri, dan kiai tidak lagi cukup hanya menjadi penjaga
tradisi, tetapi harus tampil sebagai pusat lahirnya inovasi yang menjawab
tantangan zaman.
"Pesantren, santri, dan kiai tidak lagi
sekadar berperan sebagai penjaga tradisi, tetapi harus menjadi pusat lahirnya
inovasi. Di era yang terus berkembang, pesantren harus mampu menciptakan
gagasan-gagasan baru yang relevan dengan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai
keislaman," ujarnya.
Menurutnya, inovasi tersebut harus tetap berpijak
pada kekuatan tafaqquh fi al-dīn. Pengalaman pengembangan Ma'had Aly
menjadi salah satu contoh praktik baik bagaimana pendalaman ilmu-ilmu keislaman
dapat berjalan seiring dengan penguatan riset, literasi, dan pengabdian kepada
masyarakat sebagai fondasi penguatan masyarakat sipil keagamaan.
Senada dengan itu, K.H. Fadhlullah Turmudzi
menegaskan bahwa transformasi pesantren harus tetap menjaga sanad keilmuan,
tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, dan pembentukan akhlak. Menurutnya, inovasi
akan memiliki daya tahan apabila dibangun di atas tradisi keilmuan yang kokoh.
Sementara itu, Dr. H. Nur Said mengingatkan
pentingnya membangun masyarakat sipil keagamaan yang inklusif melalui penguatan
literasi dan keadilan gender. Ia menegaskan bahwa keadilan gender bukanlah
menyeragamkan peran laki-laki dan perempuan, melainkan memberikan kesempatan
yang adil sesuai kapasitas masing-masing.
Nur Said juga menekankan bahwa perkembangan
kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan teknologi digital harus
dimanfaatkan untuk memperkuat literasi, tata kelola pesantren, pendidikan, dan
pelayanan masyarakat. Menurutnya, teknologi harus berjalan seiring dengan etika
Islam sehingga inovasi yang lahir tetap berpihak pada kemanusiaan, keadilan,
dan kelestarian lingkungan.
Perspektif lain disampaikan Dr. Agus Suharjono
Ekomadyo dari ITB yang mengangkat konsep budaya srawung sebagai modal sosial
penting dalam tradisi pesantren.
"Ada dunia yang berbeda antara tradisi
pesantren dan fikih, serta sains modern dalam pendidikan. Titik persamaannya
ada pada kebermanfaatan," katanya.
Menurut Agus, tradisi pesantren dan sains modern
tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling memperkuat untuk
menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Gagasan tersebut diperluas oleh Ahmad Nashir
Budiman yang menawarkan konsep pesantren dan masjid sebagai social
laboratory. Menurutnya, pesantren dan masjid perlu menjadi ruang kolaborasi
yang mengintegrasikan pendidikan, teknologi, riset terapan, kewirausahaan
sosial, ekonomi umat, dan pelayanan masyarakat.
Ia menilai perkembangan teknologi digital dan
kecerdasan buatan merupakan peluang besar untuk memperluas manfaat pesantren
dan masjid dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Dr. Techn. Ir. Saiful Akbar
menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi antara pesantren, masjid,
perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar inovasi yang
lahir benar-benar memberikan dampak nyata.
Forum ini juga menegaskan bahwa penguatan pesantren
harus berjalan beriringan dengan revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat
ibadah, pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Sinergi keduanya menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat sipil
keagamaan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Di akhir forum, para narasumber sepakat bahwa masa
depan pesantren bukanlah memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan
mengintegrasikan tafaqquh fi al-dīn, sains, teknologi, dan inovasi
sosial dalam satu ekosistem keilmuan yang menghadirkan kemaslahatan. Dengan
demikian, pesantren dan masjid diharapkan menjadi episentrum lahirnya generasi
berilmu, berakhlak, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus mampu mewujudkan khidmah
khaira ummah bagi kemajuan bangsa dan peradaban.
LTN NU
-
Juni 27, 2026
Edit this post
PESANTREN SEBAGAI PILAR MASYARAKAT SIPIL KEAGAMAAN DARI PENDIDIKAN KEMANDIRIAN HINGGA TRANSFORMASI SOSIAL
KUDUS (LTNNU ) – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus sukses menyelenggarakan Muktamar Ilmu Pengetahuan IV pada Sabtu (27/06/2026).
Bertempat di Ruang Lantai 1 Gedung Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kudus, acara ini dimulai tepat pukul 14.00 WIB. Pertemuan ilmiah ini secara khusus menghadirkan Sesi Pendukung 4 (Panel 4) yang berfokus pada Pesantren Sebagai Pilar Masyarakat Sipil Keagamaan Dari Pendidikan Kemandirian Hingga Transformasi Sosial.
Di era modernisasi, Ma’had Aly menegaskan peran pesantren sebagai pilar masyarakat sipil keagamaan yang diakui negara, berfungsi menjembatani tradisi keulamaan dan tuntutan pendidikan tinggi modern. Adaptasi teknologi pendidikan—seperti pembelajaran digital dan absensi elektronik—memperlihatkan kapasitas inovasi sejumlah pesantren, tetapi juga menimbulkan dilema integrasi dengan mekanisme akademik perguruan tinggi. KH Ahmad Fadlullah Turmudzi menyorot produksi otoritas keagamaan melalui tiga dimensi: tradisional, karismatik, dan legal-rasional, yang saling berinteraksi dan kadang memunculkan ketegangan saat modernisasi menuntut formalitas. Dr. H. Nur Said mengajukan standar pesantren transformatif yang responsif gender, berlandaskan prinsip Khairu Ummah dan penerapan Total Quality Management untuk meningkatkan mutu dan tata kelola lembaga. Agus S. Ekomadyo mendorong srawung antara tradisi dan sains modern, menekankan bahwa pesantren sebaiknya menjadi ruang nyata untuk mengembangkan, menguji, dan menerapkan inovasi teknologi yang memberi dampak sosial, khususnya bagi jam’iyah NU.
Tantangan utama meliputi dilema identitas, resistensi internal, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan harmonisasi regulasi dan akreditasi. Banyak pesantren menghadapi kendala infrastruktur dan SDM terlatih sehingga akses teknologi dan penerapan manajemen mutu belum merata. Namun peluang yang terbuka cukup besar: integrasi teknologi dan manajemen mutu dapat memperluas akses pendidikan, meningkatkan efisiensi administrasi, dan mendorong program vokasi yang kontekstual dengan kebutuhan lokal. Selain itu, responsivitas gender dapat memperkuat peran perempuan dalam lingkungan pesantren dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.
Rekomendasi praktis mencakup penyusunan kebijakan akreditasi yang adaptif terhadap karakteristik pesantren, program peningkatan kapasitas untuk pengurus dan pengajar, investasi pada infrastruktur digital, serta penguatan kemitraan riset antara pesantren, universitas, dan sektor teknologi. Penting pula memfasilitasi dialog antara ulama tradisional dan pemangku kepentingan modern agar adaptasi berjalan dengan penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan. Dengan sinergi penghormatan tradisi dan pengelolaan mutu profesional, Ma’had Aly dan pesantren dapat mempertahankan warisan keagamaan sekaligus menjadi agen perubahan sosial-ekonomi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
LTN NU
-
Juni 27, 2026
Edit this post
Lakpesdam PWNU Jateng dan UIN Sunan Kudus Gelar Muktamar Ilmu Pengetahuan IV, Dorong Kemandirian Ekonomi dan Organisasi
KUDUS (LTNNU ) – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus sukses menyelenggarakan Muktamar Ilmu Pengetahuan IV pada Sabtu (27/06/2026).
Bertempat di Ruang Theater Lantai 3 Gedung Laboratorium UIN Sunan Kudus, acara ini dimulai tepat pukul 13.00 WIB. Pertemuan ilmiah ini secara khusus menghadirkan Sesi Pendukung 1 (Panel 1) yang berfokus pada strategi taktis dan tahapan bagi kemandirian Jam'iyyah Nahdlatul Ulama di wilayah Jawa Tengah.
Acara yang dipandu oleh Dr. Umi Arifah dari Lakpesdam PWNU Jateng ini mengusung tema besar “Membangun Kemandirian Organisasi dan Memperkuat Konsolidasi Gerakan: Strategi dan Tahapan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah”. Forum strategis ini dihadiri oleh jajaran penting struktur NU, yang meliputi unsur PWNU Jateng, Syuriah PCNU se-Jateng, Ketua Tanfidziyah PCNU se-Jateng, serta perwakilan lembaga dan badan otonom (Banom) dari tingkat wilayah hingga tingkat cabang, khususnya dari Kudus, Pati, Jepara, dan Demak.
Salah satu topik krusial yang dibahas dalam panel tersebut adalah program pemberdayaan ekonomi petani Nahdliyyin melalui pengembangan pertanian organik. Melalui skema terintegrasi yang melibatkan kerja sama antara pemerintah, NGO, dan Koperasi Serba Usaha Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (KSU-LPNU), organisasi berkomitmen memfasilitasi seluruh kebutuhan petani dari hulu ke hilir.
Upaya ini dirancang untuk memberikan nilai tambah ekonomi langsung berupa harga yang adil bagi petani, sekaligus nilai tidak langsung melalui Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi.
Selain sektor agraria, muktamar ini juga menyoroti pentingnya konsolidasi internal demi membangunkan potensi raksasa NU yang selama ini diibaratkan sebagai “Giant Sleeping” atau raksasa yang tertidur pulas.
Melalui pemaparan data survei keorganisasian, para narasumber yang terdiri dari akademisi dan praktisi NU—seperti Dr. H. Sriyanto, M.Pd., Prof. H. Wahibur Rohman, Ph.D., dan Ah Maftuchan, M.Si.—menekankan perlunya optimalisasi kinerja pengurus di tingkat MWC hingga ranting. Langkah nyata ini diambil agar kekuatan kultural warga NU yang besar dapat bertransformasi menjadi kekuatan struktural yang solid, mandiri, dan bermartabat demi membangun peradaban.
LTN NU
-
Juni 27, 2026
Edit this post
Dari Kultural ke Struktural: Menakar Arah Baru Tata Kelola Organisasi Nahdlatul Ulama di Muktamar Ilmu Pengetahuan
KUDUS (LTNNU) – Dalam rangka merespons dinamika zaman dan memperkuat kontribusi nyata di tengah masyarakat, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus menggelar Muktamar Ilmu Pengetahuan IV. Salah satu agenda krusial dalam rangkaian acara tersebut adalah Sesi Pendukung 2 berupa diskusi panel bertajuk "Nahdlatul Ulama dan Transformasi Sosial: Dari Khidmah Kultural Menuju Perubahan Struktural"( Sabtu 27 Juni 2026).
Acara yang bertempat di Aula Lantai 4 Gedung Perpustakaan UIN Sunan Kudus ini dihadiri oleh unsur PWNU Jateng, Sekretaris PCNU se-Jateng, serta jajaran pengurus Lakpesdam dari berbagai kabupaten seperti Kudus, Pati, Demak, dan Jepara.
Diskusi panel ini menghadirkan jajaran pakar dan akademisi terkemuka sebagai narasumber, di antaranya Dr. Mustaghfiroh Rahayu, MA.; Sunaji Zamroni (Koordinator Pusat Studi UNU Yogyakarta); Prof. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., MP., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. (Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNU Yogyakarta); Dr. Nur Kafid, S.Th.I., M.Sc.; dan Prof. Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd.(Wakil Rektor III UIN Sunan Kudus) Dipandu oleh Khabib Sholihin dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah sebagai moderator.
Forum ilmiah ini secara mendalam membedah esensi transformasi NU agar tidak sekadar terjebak pada mitos perubahan hierarki, pembaruan administratif, atau digitalisasi dokumen semata. Sebaliknya, transformasi nyata harus menyentuh pergeseran fundamental pada tata kelola organisasi, budaya "servant leadership", serta eksekusi program yang berorientasi langsung pada dampak kesejahteraan jamaah.
Dalam pemaparannya, Sunaji Zamroni menekankan pentingnya menyambungkan transformasi organisasi NU dengan kebutuhan riil di tingkat akar rumput. Guna mewujudkan hal tersebut, dirumuskan empat pilar formulasi transformasi NU yang meliputi penguatan basis data sosial warga untuk membantu khidmah kiai agar lebih presisi, konsolidasi ekosistem (pesantren, madrasah, PTNU, LAZISNU, hingga badan otonom), pembentukan kader penghubung yang responsif terhadap kebijakan publik, serta penyediaan Forum Kebijakan Nahdliyin.
Seluruh langkah strategis ini diukur menggunakan instrumen "Maqoshid Syariah" sebagai standar kesejahteraan, yang mencakup perlindungan agama, jiwa (akses kesehatan dan pangan), akal (mutu pendidikan dan riset), keturunan (perlindungan perempuan dan anak), serta harta (akses modal UMKM dan tata kelola zakat-wakaf).
Sementara itu, dari perspektif akademis, Prof. Nafiatul Umami menggarisbawahi peran strategis perguruan tinggi dan ilmuwan sebagai agen perubahan dan motor inovasi melalui diseminasi ilmu yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Beliau memaparkan bahwa perubahan yang bermanfaat bagi umat harus memenuhi "3 Lensa Kebijakan" sebagai syarat mutlak, yaitu "Scientific Knowledge" (bukti ilmiah dan data riset), "Practical Knowledge" (pengalaman pengurus, pesantren, dan kearifan lokal yang aplikatif di lapangan), serta "Political Knowledge" (dukungan organisasi, legitimasi kultur politik, dan regulasi).
Melalui integrasi ketiga lensa ini, diharapkan terjadi transformasi efektif yang tepat arah, adaptif, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan riil "piring makan" jamaah.
LTN NU
-
Juni 27, 2026
Edit this post
PWNU JAWA TENGAH SUKSES SELENGGARAKAN MUKTAMAR ILMU PENGETAHUAN IV BEKERJA SAMA DENGAN UIN SUNAN KUDUS
Kudus- Pelaksanaan Muktamar Ilmu Pengetahuan ke IV tahun 2026 yang dilaksanakan di UIN Sunan Kudus oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus dihadiri para intelektual Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah. Tercatat, peserta hadir lebih dari 700 Peserta (27/06/2026).
Pelaksanaan Muktamar Ilmu Pengetahuan IV diawali dengan penandatanganan MoU antara UIN Sunan Kudus dengan PWNU Jawa tengah yang dilakukan oleh Abdurrohman Kasdi bersama Kisbiyanto selaku pihak UIN Sunan Kudus dan Abdul Ghaffar Rozin bersama Ahmad Fatkhur Rohman selaku pihak PWNU Jawa Tengah. Muktamar ini dilaksanakan sampai dengan 5 sesi, terdiri dari sesi utama dan dilanjutkan dengan 4 sesi pendukung. Adapun sesi utama membedah tema besar Peta Jalan Nahdlatul Ulama Sebagai Masyarakat sipil Keagamaan. Adapun narasumber sesi utama adalah Muhammad A.S Hikam, M. Mustafid, Arie Sujito, Abdurrahman Masud, serta tokoh perempuan Nahdlatul Ulama, Mayadina Rohmi Musfiroh.
LTN NU
-
Juni 27, 2026
Edit this post
Muktamar Ilmu Pengetahuan: NU Tak Boleh Netral Saat Keadilan Terancam
KUDUS – Nahdlatul Ulama (NU) ditegaskan tidak boleh
bersikap netral ketika keadilan menghadapi ancaman akibat penyalahgunaan
kewenangan. Sebagai masyarakat sipil keagamaan (religious civil society),
NU justru dituntut menjadi kekuatan moral yang menjalankan fungsi kontrol
sosial, menjaga demokrasi, serta menghadirkan keberpihakan pada kemaslahatan
umat dan bangsa.
Pesan tersebut menjadi benang merah Muktamar Ilmu
Pengetahuan (MIP) IV Tahun 2026 yang diselenggarakan Lembaga Kajian dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Jawa Tengah di Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Sabtu (27/6/2026). Mengusung tema
"Nahdlatul Ulama sebagai Masyarakat Sipil Keagamaan: Konsolidasi Gerakan,
Kemandirian Organisasi, dan Transformasi Sosial", forum ini mempertemukan
akademisi, ulama, peneliti, pengasuh pesantren, serta pimpinan perguruan tinggi
untuk merumuskan arah gerakan intelektual NU dalam menjawab tantangan zaman.
Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman
Kasdi, Lc., M.Si., mengatakan bahwa penyelenggaraan MIP IV merupakan kelanjutan
tradisi intelektual Nahdlatul Ulama yang telah dibangun sejak Muktamar Ilmu
Pengetahuan sebelumnya. Menurutnya, kesinambungan forum tersebut menjadi bagian
dari ikhtiar memperkuat sanad keilmuan sekaligus memastikan bahwa ilmu
pengetahuan memberikan manfaat nyata bagi warga NU dan bangsa Indonesia.
"Muktamar Ilmu Pengetahuan tidak boleh
berhenti sebagai forum diskusi akademik. Forum ini harus melahirkan gagasan
yang berdampak nyata bagi warga NU, memperkaya khazanah keilmuan, sekaligus
memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi pengembangan ilmu
dalam NU bertumpu pada ushul fikih yang selalu mampu berdialog dengan perubahan
zaman. Karena itu, perkembangan sains dan teknologi harus dipadukan dengan
humaniora serta ilmu-ilmu keislaman agar kemajuan tetap berpijak pada
nilai-nilai kemanusiaan.
"Orang-orang yang beraktivitas di dunia sains
sesungguhnya tidak pernah lepas dari humaniora, terutama ilmu-ilmu keagamaan.
Semua ilmu harus saling menguatkan dalam membangun peradaban," kata
Abdurrohman Kasdi.
Menurutnya, dipilihnya UIN Sunan Kudus sebagai tuan
rumah MIP IV juga memiliki makna filosofis yang kuat. Sunan Kudus dikenal
sebagai waliyul ilmi, sedangkan filosofi Gusjigang—bagus akhlaknya,
pandai mengaji, dan pintar berdagang—mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual
harus berjalan beriringan dengan akhlak mulia dan kemandirian ekonomi.
Sementara itu, Dr. Arie Sudjito, S.Sos., M.Si.,
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni
Universitas Gadjah Mada (UGM), menegaskan bahwa tema besar MIP IV memiliki
makna strategis bagi masa depan NU sebagai kekuatan masyarakat sipil.
Menurutnya, NU tidak boleh menjadi organisasi yang
naif ataupun memilih bersikap netral ketika keadilan menghadapi ancaman akibat
penyalahgunaan kewenangan. Independensi organisasi justru harus diwujudkan
melalui keberanian menjalankan fungsi kontrol sosial, mengawal demokrasi,
membela kelompok yang lemah, serta memastikan negara tetap berjalan dalam
koridor konstitusi dan keadilan.
Bagi Arie Sudjito, keberpihakan NU bukan kepada
kepentingan politik praktis, melainkan kepada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan,
dan kemaslahatan publik. Dengan modal tradisi keilmuan, jaringan pesantren,
serta basis sosial yang luas, NU memiliki tanggung jawab historis untuk
menghadirkan kritik yang konstruktif sekaligus solusi atas berbagai persoalan
bangsa.
Gagasan tersebut memperoleh penguatan dalam sidang
Peta Jalan Nahdlatul Ulama. Dr. Muhammad Atho'illah Shohibul Hikam, M.A.,
A.P.U., atau sering disapa A.S. Hikam, tokoh NU dan pengamat politik President
University, menegaskan bahwa penguatan gerakan NU membutuhkan perpaduan antara
tata kelola organisasi yang modern dan orientasi perjuangan sosial.
"Manajemen modern membutuhkan paradigma
pembebasan. Paradigma pembebasan membutuhkan manajemen modern."
Menurut A.S. Hikam, profesionalisme organisasi
tidak boleh berhenti pada efisiensi administrasi. Tata kelola yang baik harus
menjadi instrumen untuk membebaskan masyarakat dari kemiskinan, ketimpangan,
kebodohan, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Sebaliknya, paradigma pembebasan
memerlukan organisasi yang modern, transparan, adaptif, dan akuntabel agar
cita-cita sosial NU dapat diwujudkan secara efektif.
Pesan yang tidak kalah penting disampaikan Prof. H.
Abdurrahman Mas'ud, Ph.D., Ketua Asosiasi Dosen Penggerak (ADP) dan Guru Besar
UIN Walisongo Semarang. Ia mengingatkan bahwa harakah Nahdlatul Ulama tidak
boleh melupakan sejarah panjang gerakan intelektual yang telah dibangun para
ulama.
"Sejarah bukan hanya soal masa lalu, tetapi
juga membingkai masa depan."
Menurut Abdurrahman Mas'ud, kekuatan NU lahir dari
tradisi ilmu pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu,
konsolidasi organisasi harus selalu bertumpu pada memori sejarah, penguatan
tradisi intelektual, dan kemampuan membaca perubahan zaman. Organisasi yang
melupakan sejarah akan kehilangan arah, sedangkan organisasi yang mampu merawat
ingatan kolektif akan lebih siap menghadapi masa depan.
Berbagai pandangan tersebut memperlihatkan bahwa
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV tidak sekadar menjadi forum akademik, tetapi juga
ruang konsolidasi pemikiran strategis bagi masa depan Nahdlatul Ulama. Tradisi
ilmu pengetahuan dipertemukan dengan penguatan kelembagaan, pembaruan tata
kelola organisasi, dan komitmen terhadap transformasi sosial.
Selama dua hari pelaksanaan, forum berlangsung
dalam suasana yang hangat, terbuka, dan penuh semangat musyawarah. Perbedaan
gagasan menjadi energi untuk memperkaya pemikiran, bukan memecah persaudaraan.
Suasana tersebut menunjukkan bahwa dialog intelektual tetap menjadi karakter
utama Nahdlatul Ulama dalam merespons dinamika kebangsaan.
Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin,
M.Ed., berharap suasana teduh yang mewarnai pelaksanaan Muktamar Ilmu
Pengetahuan IV di Kota Kudus dapat menjadi inspirasi bagi kehidupan organisasi
Nahdlatul Ulama secara lebih luas, termasuk dalam menyongsong Muktamar Besar
PBNU mendatang.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Rozin itu,
perbedaan pandangan yang muncul dalam forum intelektual merupakan bagian dari
kekayaan tradisi NU. Yang lebih penting adalah kemampuan merawat ukhuwah,
mengedepankan musyawarah, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan
dalam mengambil keputusan-keputusan strategis organisasi.
"Damainya pelaksanaan Muktamar Ilmu
Pengetahuan IV di Kudus semoga menjadi energi positif bagi terselenggaranya
Muktamar Besar PBNU yang damai, bermartabat, dan menghasilkan
keputusan-keputusan terbaik bagi kemajuan Nahdlatul Ulama serta kemaslahatan
bangsa," ujar KH Abdul Ghaffar Rozin.
Harapan tersebut sekaligus melengkapi benang merah
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV, bahwa NU akan semakin kokoh apabila mampu
memadukan tradisi keilmuan, manajemen organisasi yang modern, kesadaran
sejarah, serta keberanian moral untuk menjalankan fungsi kontrol sosial di
tengah ancaman ketidakadilan dan penyalahgunaan kewenangan.
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV akhirnya menegaskan
bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang akademik. Ilmu harus
menjelma menjadi kekuatan yang membebaskan, menjaga akal sehat publik,
mengoreksi ketidakadilan, memperkuat demokrasi, dan menghadirkan kemaslahatan
bagi seluruh masyarakat. Di titik itulah Nahdlatul Ulama meneguhkan jati
dirinya sebagai masyarakat sipil keagamaan yang independen, berakar kuat pada
tradisi intelektual, dan tidak pernah netral ketika keadilan dipertaruhkan.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Categories
Stay Connected
Most Reading
-
1. Judul Resensi Buku : “ Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan” 2. Data Buku Judul Buk...
-
PCNU Kudus, Jateng Kudus, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) memiliki empat kekuatan yakni berupa akidah Ahlussunnah wal Jamaah (...
-
Ketua Umum PBNU Prof dr KH Said Aqil Siradj M,A. hadir pada acara Halaqah Kebangsaan dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ...
-
Lombok Barat, NU Online KH Ahmad Muwafiq menyampaikan bahwa Islam disebarkan para ulama ke Nusantara dengan memperhatikan bu...
-
Duet Kiai Ulil dan H Asyrofi pimpin NU Kudus Kudus, NU Online Pasangan KH Ulil Albab Arwani dan H Asyrofi Masyito oleh pese...
-
Kudus, NU Online Tanggal 3 Maret kemarin, H Asyrofi Masyito terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupa...





