berita/block-1
MUSLIMAT NU
MUSLIMAT NU/block-5
GP ANSOR NU
GP ANSOR NU/block-6
FATAYAT NU
FATAYAT NU/block-6
IPNU
IPNU/block-6
IPPNU
IPPNU/block-6
PMII
PMII/block-6
PS PAGAR NUSA
PS PAGAR NUSA/block-6
ISNU
ISNU/block-6
PERGUNU
PERGUNU/block-6
SARBUMUSI
SARBUMUSI/block-8
JQH
JQH/block-8
LDNU
LDNU/block-5
LP MA’ARIF NU
LP MA’ARIF NU/block-2
RMINU
RMINU/block-2
LPNU
LPNU/block-2
LPPNU
LPPNU/block-2
LKKNU
LKKNU/block-2
LAKPESDAM NU
LAKPESDAM NU/block-2
LPBHNU
LPBHNU/block-5
LESBUMI NU
LESBUMI NU/block-2
LAZISNU
LAZISNU/block-2
LWPNU
LWPNU/block-2
LBMNU
LBMNU/block-2
LTMNU
LTMNU/block-2
LKNU
LKNU/block-2
LFNU
LFNU/block-2
LTNNU
LTNNU/block-2
LPBI NU
LPBI NU/block-2
LKQNU
LKQNU/block-2
LPKPNU
LPKPNU/block-5
KATEGORI
FATAYAT NU
(6)
GP ANSOR NU
(23)
IPNU
(6)
IPPNU
(6)
ISNU
(5)
JPPNU
(1)
JQH
(3)
JRA
(1)
KBRA
(1)
LAKPESDAM NU
(16)
LAZISNU
(19)
LBMNU
(10)
LDNU
(39)
LESBUMI NU
(4)
LFNU
(12)
LKKNU
(1)
LKNU
(2)
LKQNU
(2)
LP MA’ARIF NU
(3)
LPBHNU
(2)
LPBI NU
(4)
LPKPNU
(2)
LPNU
(3)
LPPNU
(5)
LTMNU
(4)
LTNNU
(31)
LWPNU
(4)
MUSLIMAT NU
(3)
PERGUNU
(5)
PMII
(3)
PS PAGAR NUSA
(4)
RMINU
(7)
SARBUMUSI
(3)
berita
(222)
Daftar Link
Postingan Populer
-
1. Judul Resensi Buku : “ Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan” 2. Data Buku Judul Buk...
-
Ketua Umum PBNU Prof dr KH Said Aqil Siradj M,A. hadir pada acara Halaqah Kebangsaan dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ...
-
Kudus, NU Online Tanggal 3 Maret kemarin, H Asyrofi Masyito terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupa...
-
Lombok Barat, NU Online KH Ahmad Muwafiq menyampaikan bahwa Islam disebarkan para ulama ke Nusantara dengan memperhatikan bu...
-
Duet Kiai Ulil dan H Asyrofi pimpin NU Kudus Kudus, NU Online Pasangan KH Ulil Albab Arwani dan H Asyrofi Masyito oleh pese...
-
PCNU Kudus, Jateng Kudus, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) memiliki empat kekuatan yakni berupa akidah Ahlussunnah wal Jamaah (...
-
Kompetensi Penyembelih Halal Adz-Dzabich, PCNU Kudus gandeng UIN Sunan Kudus PCNU Kudus bersama UIN Sunan Kudus kembali menunjukkan wa...
-
Khutbah I اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ، اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ الَّذِÙ‰ْ جَعَÙ„َ الْاِسْÙ„َامَ Ø·َرِÙŠْÙ‚ًا سَÙˆِÙŠًّا، ÙˆَÙˆَعَدَ Ù„ِÙ„ْÙ…ُتَÙ…َسِّÙƒِÙŠْÙ†َ بِÙ‡ِ ÙˆَÙŠَ...
-
Kudus – Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan perannya sebagai kekuatan moral dunia. Dari forum Halalbihalal PCNU Kudus hingga panggun...
Popular Posts
-
1. Judul Resensi Buku : “ Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan” 2. Data Buku Judul Buk...
-
Ketua Umum PBNU Prof dr KH Said Aqil Siradj M,A. hadir pada acara Halaqah Kebangsaan dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ...
-
Kudus, NU Online Tanggal 3 Maret kemarin, H Asyrofi Masyito terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupa...
-
Lombok Barat, NU Online KH Ahmad Muwafiq menyampaikan bahwa Islam disebarkan para ulama ke Nusantara dengan memperhatikan bu...
-
Duet Kiai Ulil dan H Asyrofi pimpin NU Kudus Kudus, NU Online Pasangan KH Ulil Albab Arwani dan H Asyrofi Masyito oleh pese...
-
PCNU Kudus, Jateng Kudus, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) memiliki empat kekuatan yakni berupa akidah Ahlussunnah wal Jamaah (...
-
Kompetensi Penyembelih Halal Adz-Dzabich, PCNU Kudus gandeng UIN Sunan Kudus PCNU Kudus bersama UIN Sunan Kudus kembali menunjukkan wa...
-
Khutbah I اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ، اَÙ„ْØَÙ…ْدُ للهِ الَّذِÙ‰ْ جَعَÙ„َ الْاِسْÙ„َامَ Ø·َرِÙŠْÙ‚ًا سَÙˆِÙŠًّا، ÙˆَÙˆَعَدَ Ù„ِÙ„ْÙ…ُتَÙ…َسِّÙƒِÙŠْÙ†َ بِÙ‡ِ ÙˆَÙŠَ...
-
Kudus – Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan perannya sebagai kekuatan moral dunia. Dari forum Halalbihalal PCNU Kudus hingga panggun...
Featured Posts
randomposts4
Latest Articles
LTN NU
-
Mei 25, 2026
Edit this post
Kompetensi Penyembelih Halal Adz-Dzabich, PCNU Kudus gandeng UIN Sunan Kudus
PCNU Kudus bersama UIN Sunan Kudus kembali menunjukkan wajah kampus dan organisasi keagamaan yang membumi. Kampus bukan menara gading yang jauh dari denyut persoalan umat. Melalui Pelatihan Kompetensi Penyembelihan Halal Adz-Dzabich, ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat dibekali kompetensi penyembelihan halal khas Nahdlatul Ulama menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Kegiatan yang digelar Pada Sabtu, 23 Mei 2026, di Aula Yayasan Arwaniyyah Kudus, oleh Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PCNU Kudus itu lahir dari kegelisahan sosial atas maraknya praktik penyembelihan yang dinilai belum memenuhi standar halal dan thayyib secara sempurna. Rais Syuriah PCNU Kudus, KH. M. Ulil Albab Arwani, mengungkapkan keprihatinannya setelah menemukan sejumlah praktik penyembelihan ayam di pasar yang hanya menyisakan lubang kecil pada leher tanpa prosedur sempurna sesuai syariat dan kesehatan hewan.
Menurutnya, umat perlu kembali meneguhkan spirit Al-Qur’an dalam menjaga makanan yang benar-benar halal dan thayyib, termasuk dalam urusan penyembelihan ternak maupun unggas. “Halal bukan sekadar label, tetapi menyangkut amanah agama, kesehatan, dan kemaslahatan umat,” tegasnya.
Ketua PCNU Kudus, Drs. H. Asyrofi Masyito, menyebut pelatihan ini sebagai gerakan yang sangat penting dan darurat di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kehalalan pangan. Ia menilai kompetensi penyembelih halal harus dimiliki masyarakat akar rumput, terutama menjelang momentum Idul Adha.
Peserta kegiatan berasal dari utusan sembilan MWC NU se-Kudus, tokoh masyarakat, pelajar, madrasah, hingga sekolah-sekolah di Kabupaten Kudus. Semangat kolektif ini memperlihatkan bahwa isu halal bukan hanya urusan ulama, melainkan tanggung jawab sosial bersama.
Secara khusus Ketua LTMNU PCNU Kudus, KH. Sholikhan, S.Ah., Alh., menyebut Adz-Dzabich sebagai gerakan moral Nahdlatul Ulama untuk menghadirkan peradaban pangan halal yang menenteramkan masyarakat. “PCNU Kudus harus memelopori gerakan moral menuju penyembelihan ternak yang benar-benar halal dan thayyib,” ujarnya.
Dukungan penuh juga datang dari UIN Sunan Kudus. Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si, menegaskan bahwa kampus harus hadir memberi dampak nyata bagi masyarakat dalam upayan konkret penguatan tridharma perguruan tinggi berbasis kemaslahatan umat. “Kalau NU yang mengajak kerja sama, tidak ada alasan untuk menolak”, begitu tegas Rektor.
Yang menarik, pelatihan ini tidak hanya membahas fiqih klasik penyembelihan. Para narasumber lintas disiplin dihadirkan untuk membangun dialog keilmuan yang integratif. KH. Amin Yasin mengupas perspektif fiqih klasik, sementara KH. Shobrin membahas fiqih tematik tata cara sembelih halal. Dari sisi medis dan kesehatan hewan hadir drh. Anton Cahyono, sedangkan perspektif saintifik Islam disampaikan KH. Dr. Muhammad Jalil.
Secara terpisah, Dr. H. Nur Said, Sekretaris PCNU Kudus yang juga salah satu jajaran Pengarah Kelompok Remaja Masjid UIN Sunan Kudus menambahkan bahwa Pelatihan Adz-Dzabich sangat menarik karena merupakan model interdisciplinary studies dalam merespons persoalan penyembelihan halal dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan. Menurutnya, pendekatan yang digunakan bukan sekadar interdisipliner, tetapi juga memiliki peluang dikembangkan menjadi transdisipliner.
“Dalam pelatihan ini, bukan hanya fiqih yang berbicara, tetapi juga medis, sains, sosial, budaya, hingga pengalaman masyarakat sebagai sumber kearifan lokal. Semua itu dipertemukan untuk menjawab tuntutan global tentang makanan yang halal, sehat, aman, dan membawa maslahat bagi jiwa maupun raga,” ujarnya.
Ia menilai model seperti ini menjadi penting di era modern ketika isu halal tidak lagi cukup dipahami secara tekstual dan normatif semata, melainkan harus mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan, kesehatan publik, psikologi hewan, dan realitas sosial masyarakat.
Inilah yang menjadikan Adz-Dzabich disebut sebagai model “ngaji interdisipliner”. Ilmu fiqih berdialog dengan medis, sains, sosial, budaya, hingga psikologi hewan. Penyembelihan halal dipahami bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai praktik saintifik yang membawa maslahat bagi kesehatan jasmani dan ketenteraman batin. Ini tentu selaras dengan visi UIN Sunan Kudus sebagai pusat pengembangan Ilmu dan teknologi integratif berwawasan global.
Lebih dari 700 peserta mengikuti pelatihan ini sebagai bagian dari penguatan kompetensi penyembelih halal khas NU Kudus. Sebuah gerakan edukatif yang bukan hanya mencetak jagal halal, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa halal-thayyib harus dipahami secara utuh, ilmiah, dan humanis.
Di tengah tantangan modernitas pangan dan industri konsumsi, Ngaji Interdisipliner Adz-Dzabich menjadi pesan kuat bahwa tradisi Islam Nusantara tetap mampu menjawab persoalan zaman dengan pendekatan integratif, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Selamat menyongsong Idul Adha 1447 H. Semoga kurban tahun ini lebih aman, menenteramkan, dan membahagiakan.
LTN NU
-
Mei 20, 2026
Edit this post
Suasana intelektual dan spiritual tampak hidup di Masjid UIN Sunan Kudus dalam kegiatan Pesantren Go to Campus selapanan yang menghadirkan Musyasyar PCNU Kudus, KH Aniq Nafisah. Dalam kajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, beliau dengan mengutip hadis yang ada dalam Ihya menegaskan bahwa ilmu pengetahuan ibarat sebuah gedung megah, sedangkan kuncinya adalah keberanian untuk bertanya. Tradisi bertanya menjadi tanda hidupnya kehausan intelektual sekaligus jalan pembuka lahirnya peradaban ilmu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, dalam tradisi keilmuan Islam, bertanya bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ibadah yang melahirkan empat pahala sekaligus. Pertama, pahala bagi orang yang bertanya (muta’allim), kedua pahala bagi orang yang mengajar (‘alim), ketiga pahala bagi mereka yang mendengarkan (mustami’), dan keempat pahala bagi siapa saja yang mendukung terselenggaranya majelis ilmu. Dukungan itu meliputi panitia, takmir masjid, organisasi keagamaan, hingga para pengambil kebijakan yang memfasilitasi tumbuhnya ruang belajar umat ternasuk dari Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si.
Sekretaris PCNU Kudus yang juga Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus, Dr. Nur Said, M.A., M.Ag., menyebut kegiatan ini sebagai fenomena menarik dalam konteks kebangkitan nasional masa kini. Menurutnya, kebangkitan bangsa tidak cukup hanya ditandai dengan kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga harus diiringi dengan kebangkitan tradisi mengaji lintas disiplin di masjid kampus sebagaimana digelar pas 20 Mei 2026 ini. “Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban ilmu, tempat bertemunya spiritualitas, intelektualitas, dan gerakan sosial,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Ma’had Al-Jamiah UIN Sunan Kudus, Dr. Ahmadi, turut memberikan dukungan penuh terhadap penguatan budaya akademik religius tersebut. Ia berharap para mahasantri dan mahasiswa dapat memanfaatkan waktu luang di sela perkuliahan untuk mengikuti kajian-kajian keislaman yang memperkaya wawasan sekaligus memperkuat karakter spiritual.
Dalam kajian yang terselenggara atas kerja sama UIN Sunan Kudus dengan PCNU Kudus ini, juga diungkap satu pesan mendalam dari Ihya’ Ulumuddin: siapa saja yang menuntut ilmu demi menghidupkan agama Islam, lalu ajal menjemput sebelum cita-citanya tercapai, maka kelak di surga akan ditempatkan pada derajat yang dekat dengan para nabi. Pesan ini menjadi energi moral bagi generasi muda kampus agar tidak lelah belajar, mengaji, dan menghidupkan tradisi ilmu sebagai jalan membangun peradaban yang berkeadaban.
(***).
LTN NU
-
April 10, 2026
Edit this post
Kudus — Dari sebuah ruang ibadah di kota yang sarat sejarah Islam Nusantara, gema doa kembali mengalun melampaui batas geografis dan politik global. Di Masjid Baitul Muqaddas Kudus, pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Tenggeles, Mejobo, Jumat (10/04/2026), tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan Kudus dengan Baitul Maqdis di Palestina.
Di tengah dinamika konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina, doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan warga Gaza serta perdamaian di Tanah Suci. Suasana khidmat mengiringi rangkaian acara yang dihadiri tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama Kudus.
Acara dipimpin oleh Wakil Katib Syuriah PCNU Kudus, Dr. KH. Sofiyan Hadi, Lc., MA. yang juga membaiat dan melantik jajaran pengurus ranting. Hadir pula Ketua PCNU Kudus H. Fajar Nugroho, S.Pt. serta Sekretaris PCNU Kudus Dr. H. Nur Said, S.Ag., MA., M.Ag. yang menegaskan pentingnya kesadaran kemanusiaan global berbasis nilai-nilai keislaman. Hadir juga memimpin prosesi acara pelantikan Ali Imron, M.Pd, Wakil Sekretaris PCNU Kudus sehingga acara berjalan lancar.
Dalam keterangannya, Sekretaris PCNU Kudus, Nur Said menegaskan bahwa perhatian terhadap Palestina bukan sekadar isu geopolitik, melainkan bagian dari panggilan moral dan keadilan universal dalam Islam.
“Perhatian terhadap kemerdekaan Palestina penting bukan hanya karena prinsip hak asasi manusia, tetapi juga karena nilai keadilan dalam Islam yang menolak segala bentuk penjajahan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa relasi historis dan kultural antara Kudus dan Al-Quds memiliki akar yang kuat sejak era Sunan Kudus. Spirit keterhubungan itu terus berlanjut dalam sejarah kebangsaan Indonesia, termasuk pada masa Soekarno hingga Abdurrahman Wahid bahkan hingga Presedian berikutnya hingga sekarang era Presiden Prabowo Subiyanto.
Menurutnya, penyebutan “Baitul Muqaddas” pada masjid di Kudus bukan sekadar penamaan simbolik, melainkan refleksi keterhubungan batin antara masyarakat Kudus dengan pusat spiritual umat Islam di Yerusalem.
Doa yang diawali dengan tahlil oleh Abdurrahman tersebut menjadi penutup rangkaian acara yang sarat makna spiritual dan solidaritas kemanusiaan.
Doa puncak dipanjatkan oleh Sofiyan Hadi yang memimpin langsung permohonan untuk kedamaian Baitul Maqdis di Palestina. Suasana haru menyelimuti jamaah saat doa dipanjatkan untuk keselamatan, kemenangan, dan kedamaian umat Islam di wilayah konflik.
Momentum ini menegaskan bahwa dari ruang-ruang lokal seperti Masjid Baitul Muqaddas Kudus, kesadaran global dapat tumbuh dan menguat. Bahwa penderitaan di Palestina bukan hanya isu jauh di Timur Tengah, tetapi juga panggilan nurani yang dirasakan hingga ke akar rumput di Nusantara.
Di tengah dunia yang kerap terfragmentasi oleh batas politik, suara dari Kudus menghadirkan pesan sederhana namun dalam: bahwa satu nama dapat menjadi jembatan makna, dan satu doa dapat menghubungkan desa dengan dunia—dari Kudus menuju Baitul Maqdis, dari lokal menuju kemanusiaan global.
LTN NU
-
April 01, 2026
Edit this post
Kudus – Nahdlatul Ulama (NU) kembali menegaskan perannya sebagai kekuatan moral dunia. Dari forum Halalbihalal PCNU Kudus hingga panggung diplomasi internasional, NU menyuarakan pesan tegas: perang harus dihentikan, dan peradaban harus dibangun di atas nilai kemanusiaan, (Rabu 1 April 2026).
Dalam momentum Halalbihalal, Ketua PCNU Kudus, Drs. HM. Asyrofi Masyito, menekankan pentingnya menjaga soliditas organisasi sebagai fondasi utama gerakan. Menurutnya, semangat saling memaafkan harus dilanjutkan dengan penguatan khidmah demi mewujudkan khoira ummah.
“Soliditas adalah kekuatan. Dari sinilah NU bisa terus hadir memberi manfaat, tidak hanya untuk umat, tetapi juga untuk bangsa dan dunia,” tegasnya.
Pesan ini sejalan dengan pandangan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh, yang mengingatkan agar NU tidak abai terhadap isu-isu strategis, termasuk krisis lingkungan dan tantangan peradaban global. Ia menekankan pentingnya gerakan berbasis akar rumput seperti santri tani sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.
Sementara itu, KH M. Ulil Albab Arwani mengajak warga NU untuk terus menghidupkan tradisi keagamaan di masjid, pesantren, dan musholla, termasuk kegiatan lailatul ijtima’, sebagai pusat penguatan spiritual dan sosial.
Menurut Dr. H. Nur Said, M.A., M.Ag., Sekretaris PCNU Kudus, acara ini digelar sederhana dengan mengundang jajaran PCNU Kudus, Pengurus Lembaga, Banom dan jajaran Pengurus MWCNU se-Kabupaten Kudus karena keterbatasan ruang. Namun meskipun sederhana diharapkan mampu memberikan pesan dari Kudus mulai dari isu-isu lokal hingga perdamaian dunia.
Dari Kudus ke Diplomasi Global
Apa yang menguat di tingkat lokal ini ternyata selaras dengan langkah strategis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di tingkat internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, PBNU aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak global, termasuk perwakilan Amerika Serikat, Iran, dan Arab Saudi.
NU menyampaikan aspirasi tegas agar konflik global segera dihentikan. Eskalasi perang dinilai telah melampaui batas kemanusiaan, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan negara-negara konflik, tetapi juga merembet ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Krisis kemanusiaan, instabilitas ekonomi, hingga ancaman terhadap ketahanan global menjadi alasan kuat mengapa NU mengambil peran aktif dalam diplomasi perdamaian.
Jejak Spirit Al-Quds dalam Sejarah Kudus
Menariknya, seruan global dari Kudus ini memiliki akar historis yang mendalam. Nama Kudus diyakini memiliki keterkaitan simbolik dengan Al-Quds atau Baitul Maqdis di Palestina—kota suci yang menjadi pusat spiritual dunia.
Jejak ini diperkuat oleh kiprah Sunan Kudus, yang dikenal dengan pendekatan dakwah kultural dan penuh kedamaian. Melalui metode yang kini dapat disebut sebagai spiritual healing, Sunan Kudus mengajarkan Islam dengan pendekatan yang merangkul budaya lokal, menciptakan harmoni tanpa konflik.
Warisan ini menjadikan Kudus bukan sekadar kota, tetapi simbol peradaban damai—miniatur nilai Al-Quds dalam konteks Nusantara.
Menyatukan Lokal dan Global
Dari penguatan tradisi di tingkat akar rumput hingga diplomasi global, NU menunjukkan bahwa kekuatan besar lahir dari fondasi yang kokoh. Soliditas organisasi, kesadaran ekologis, dan penguatan spiritual menjadi energi yang mendorong NU tampil di panggung dunia.
Seruan perdamaian yang disampaikan NU bukan sekadar wacana, tetapi cerminan dari nilai yang telah lama hidup dalam tradisi Islam Nusantara.
Di tengah dunia yang dilanda konflik, NU hadir membawa pesan yang jernih: kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.
Dari Kudus-yang mewarisi spirit Al-Quds-hingga forum internasional, NU menegaskan komitmennya untuk terus menjadi penjaga perdamaian dan peradaban.
LTN NU
-
Maret 29, 2025
Edit this post
Kudus, 28 Maret 2025 – Menjelang Idul Fitri 1446 H, Lembaga Ta’lif
wan Nasyr Nahdathul Ulama PCNU (LTNNU PCNU) Kudus bekerja sama dengan Pengurus
Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Turki mengadakan diskusi daring
bertajuk Diskusi Ramadhan Menyambut Idul Fitri 1446 H: Peluang dan Tantangan
Hubungan Indonesia – Turki di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Acara ini
berlangsuang pada Jumat malam, 29 Ramadhan 1446 H (28 Mei 2025) melalui Zoom
Meeting.
Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur pengurus NU, termasuk Pengurus Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kudus, Pengurus lembaga-lembaga PCNU Kudus, serta badan otonom seperti Muslimat NU, GP Anshor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU dan PMII. Selain itu, para pengurus lembaga pendidikan seperti PERGUNU, LP Ma'arif NU, RMI NU, LAKPESDAM NU, ISNU, serta pimpinan sekolah, madrasah, dan pesantren turut serta dalam diskusi ini. Tidak ketinggalan, pelajar, mahasiswa, santri, dan kader NU dari berbagai tingkatan juga ikut meramaikan acara ini.
Dr. KH. Kisbiyanto, M.Pd. selaku Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kudus menyampaikan kultur dan kebudayaan di Negara Turki hampir sama dengan Indonesia, ini sangat selaras dengan amaliyah aswaja yang selalu diamalkan.
Dalam sambutannya, beliau menjelaskan sangat mendukung ketika ada para pelajar NU yang akan melanjutkan studi ke Turki. Beliau pernah berkunjung ke Turki dan bertemu dengan para pelajar dari Indonesia yang sedang melaksankan studi lanjutan di sana.
Moh. Munirudin, B.A., selaku narasumber yang menjabat sebagai Ketua PCINU Turki dan CEO Kampus Global Edukasi, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, beliau menyoroti berbagai aspek kerja sama antara Indonesia dan Turki dalam dunia pendidikan dan kebudayaan, termasuk peluang beasiswa, pertukaran pelajar, serta kolaborasi antar lembaga Pendidikan di kedua negara.
“Berbagai program beasiswa pendidikan yang ditawarkan dapat menjadikan salah satu pilihan untuk melanjurkan studi ke Turki,” terang beliau.Dalam paparannya, beliau menekankan untuk berhati-hati ketika ada yang menawarkan beasiswa ke turki namun tidak berlesensi remi. Ini akan merugikan banyak orang, terlebih bagi para calon peserta yang ingin studi lanjut ke Turki.
KH. Muhammad Agus Yusrun Nafi', S.Ag., M.SI, Ketua LTNNU PCNU Kudus, menyampaikan diskusi ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Turki dalam pengembangan pendidikan Islam serta memperluas wawasan akademik bagi para peserta.
Beliau menyampaikan dengan terselenggaranya diskusi ini, diharapkan para peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai prospek kerja sama Indonesia-Turki dalam pendidikan dan kebudayaan serta mengambil manfaat dari peluang yang tersedia di masa mendatang.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kudus, Drs. KH. M. Asyrofi Masyitho, dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme peserta yang hadir dan berharap acara seperti ini dapat berlanjut secara berkesinambungan.
“Kegiatan ini menjadi gambaran umum untuk
para pelajar NU yang akan melanjutkan pendidikan ke kancah internasional,”
terang beliau. Lebih lanjut beliau menjelaskan, kesempatan untuk memahami
bagaimana kondisi real proses pendidikan di sana. Sehingga kegiatan ini sangat
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Categories
Stay Connected
Most Reading
-
1. Judul Resensi Buku : “ Mengulik Rekam Jejak Sang Inspirator Syaikhona Kholil Bangkalan” 2. Data Buku Judul Buk...
-
Ketua Umum PBNU Prof dr KH Said Aqil Siradj M,A. hadir pada acara Halaqah Kebangsaan dan Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ...
-
Kudus, NU Online Tanggal 3 Maret kemarin, H Asyrofi Masyito terpilih menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupa...
-
Lombok Barat, NU Online KH Ahmad Muwafiq menyampaikan bahwa Islam disebarkan para ulama ke Nusantara dengan memperhatikan bu...
-
Duet Kiai Ulil dan H Asyrofi pimpin NU Kudus Kudus, NU Online Pasangan KH Ulil Albab Arwani dan H Asyrofi Masyito oleh pese...
-
PCNU Kudus, Jateng Kudus, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) memiliki empat kekuatan yakni berupa akidah Ahlussunnah wal Jamaah (...